Lakon Kami
Kopi dari sebuah tempat, dirawat manusia, memiliki karakter, dan membawa cerita yang terasa dekat dengan perjalanan hidup pelanggan.
Dari lereng Temanggung
Biji kopi Ciptoning tumbuh di dataran tinggi Temanggung, Jawa Tengah — tanah vulkanik, udara sejuk pegunungan, iklim yang membentuk karakter kopi robusta khasnya sejak dari kebun.
Dirawat, bukan sekadar dipanen
Di balik setiap cangkir, ada petani yang merawat pohon kopinya musim demi musim, dan tangan yang menyangrai biji itu hingga karakternya keluar. Kopi ini bukan komoditas anonim — ada manusia di dalamnya.
Nama yang berasal dari lakon
Ciptoning diambil dari Ciptoning Mintaraga — nama Arjuna ketika ia meninggalkan gemerlap ksatria untuk bertapa di Gunung Indrakila, sebagaimana dikisahkan dalam Kakawin Arjunawiwaha. Cipta berarti daya pikir, ning berarti hening. Ciptoning adalah keheningan yang memusatkan pikiran hingga jernih.
Filosofi itu bertemu dengan kearifan Jawa yang sederhana: ngopi = ngolah pikir. Setiap istilah dalam ritual minum kopi — ngopi, legi, gulo, cangkir, seruput — punya makna batin sendiri. Bukan tempelan visual wayang, tapi bahasa cerita yang membawa nilai itu ke setiap cangkir yang kami sajikan.
Yang kamu bawa pulang
Ciptoning tidak menjual kopi untuk sekadar diminum. Kami menyajikan ruang jeda — momen untuk mengolah pikir di tengah ritme hidup yang serba cepat. Setiap kopi Ciptoning membawa karakter dan cerita, menemani perjalananmu, bukan hanya mengisi cangkirmu.
Temukan Karaktermu